Total Tayangan Halaman

Kamis, 23 Juni 2011

MENDIDIK ANAK AGAR SUKSES (THE SHOLAT WAY)



catatn kecil untuk : 
Majelis Pembinaan Kader Aisyiyah 
RS PKU Muhammadiyah TEMANGGUNG

Latar belakang
Sholat adalah amalan pertama yang akan dihisab. Setiap ibu menjadi madrasah pertama pendidikan bagi anak-anaknya. Jadi  penting bagi para ibu untuk tahu metode sukses mendidik anak dengan mengutamakan sholatnya (the Sholat Way

Bagimana mendidik agar sholatnya bagus?
1.     1. ASI EKSLUSIVE
2.     2. DIBERIKAN MAKANAN HALAL
3.     3. SEKOLAH di SEKOLAH ISLAM
4.     4. MENCATAT PERIODISASI SHOLAT ANAK
5.     5. MENGAMATI EFEK SHOLAT  PADA ANAK

Cara Melakukan Periodisasi Sholat 
1. Diajak, dihamparkan sajadahnya.
2. Disuruh. 
3. Dipukul  kakinya jika tidak mau sholat (setelah 10 tahun). 

Setiap ibu hendaknya belajar hingga akhirnya memahami betul tata cara sholat yang benar dan bagaimana menikmati sholat. 

Allahu a'lam. 

Minggu, 19 Juni 2011

ASI MURAH, MUDAH, MEWAH (Pesan untuk anak-anak ummi yang perempuan)

Assalamu'alaikum. Wr. Wb. 
Hamdalah. Sholawat 


Selamat ummi ucapkan untuk remaja putri dan calon ibu yang sebentar lagi akan menjadi ibu. Atau mungkin masih beberapa tahun lagi.
Pemahaman ini harus nanda tahu sejak saat ini. Sebab, saat kalian sudah melahirkan nanti kalian sudah akan sangat repot dengan mempersiapkan segala sesuatunya sehingga mengenai ASI ini harus sejak sekarang nanda tahu.

ASI adalah makanan terhebat hingga saat ini. Tahu kenapa?
Sebab ia adalah makanan pemberian Allah SWT. Al Baqoroh 233 menyebutkan hal itu berabad-abad yang silam.. dan rupanya setelah kemudian ummi juga mendalami ilmu kesehatan, berbagai teori dan penelitian memang membuktikan hal tersebut.

ASI bisa mengikuti secara persis kebutuhan  bayi. Dia sangat mudah diperoleh (langsung dari Allah SWT), dan sangat mewah (istimewa..dan hanya yang betul-betul kualitas terbaik yang bisa disajikan oleh seorang ibu pada anaknya)...yang jelas dia juga murah (..gratis kan?).

Sekali lagi..ummi ucapkan selamat buat kalian semua. Jadilah kelak, kalian semua menjadi ibu sejati, salah satunya dengan memberikan ASI saja secara ekslusive pada 6 bulan pertama setelah melahirkan dan dilanjutkan hingga bayi berusia 2 tahun). Baca referensi lain mengenai ASI ya..!

Selamat, Suksess! Taqwa !!

Wassalamu'alaikum. Wr. Wb. 

Ummi Mimin 

Selasa, 14 Juni 2011

Pelatihan Manajemen LAKTASI


ASI EKSLUSIVE di MATA NAKES
RS PKU MUHAMMADIYAH TEMANGGUNG
Juni 2011
Pendahuluan
Pendapat dan persepsi tenaga kesehatan  dapat menjadi indikator cakupan pemberian ASI ekslusive di sebuah RS. Sebuah pelatihan  manajemen laktasi yang dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman para tenaga kesehatan terhadap sosialisasi ASI ekslusive telah diselenggarakan di RS PKU Muhammadiyah Temanggung.
Beberapa karyawan yang dipilih secara acak dari petugas yang berkaitan langsung dengan pasien diambil sejumlah 20 orang.
Duapuluh orang tersebut kemudian diberikan pelatihan mengenai manajemen laktasi. Dilakukan pretes dan post test serta diharapkan monitor yang terus menerus dapat menjadikan kegiatan manejemen laktasi dan kampanye ASI Ekslusive menjadi kegiatan yang berkesinambungan.
Output yang diharapkan adalah munculnya konselor atau perempuan tenaga kesehatan yang mendorong budaya pemberian ASI Ekslusive.
Out come yang diharapkan adalah meningkatnya cakupan pemberian ASI Ekslusive yang berimbas pada kecerdasan anak.
Metode
Pengambilan data ini dilakukan di tengah-tengah acara dengan cara mengedarkan kertas potongan seukuran seperempat folio dan meminta peserta pelatihan mengisi. Peserta tidak diminta menuliskan namanya dengan harapan mereka akan menuliskan dengan lebih objective.

Hasil
Dari 20 orang yang diundang, yang datang 16 orang.
Komentar mengenai Alasan/faktor keberhasilan pemberian ASI EKSLUSIVE  adalah sebagai berikut :
No
Komentar Ketidakberhasilan 
Komentar Keberhasilan 



1
Karena keinginan menyusui kurang
·         Ada keinginan menyusui
·         Dukungan keluarga
2
·         ASI tidak  keluar
·         Bekerja
·         Kurangnya pengetahuan tentang manfaat ASI
·         Tidak bekerja
·         SDM tinggi (berpendidikan)
3
Puting susu tidak ada (kurang perawatan).
ASI Sedikit
Emosi Tinggi 
Puting susu menonjol
ASI banyak
Penuh kasih sayang
4
Faktor ekonomi (stress)
Ikhlas
Penuh kasih saying
Keluarga sehat
Ekonomi memadai  
5
Kurangnya pengetahuan orang tua tentang manfaat ASI.  
Anaknya menjadi sehat.
6
Faktor Pekerjaan
Kemauan ibu yang kuat untuk tetap menyusui
Punya waktu yang luang.
7
Sibuk kerja
Puting lecet
Produksi ASi tidak banyak
Tahu betapa besar manfaat ASI bagi bayinya.
Sayang dengan bayinya.

8
Kurang pengetahuan
Kurang informasi
Anak Sakit
SDM bagus
Komitmen terhadap ASI ekslusive
9
Ibu kurang/tidak telaten
Ibu kurang/tidak sayang bayi
Rumah tangga bermasalah
Ibu mencintai anaknya
10
Ibu bekerja
Menggunakan KB hormonal.
ASI berkurang
Bayi tidak mau menyusu.
Lebih sering rewel.
Ibu bekerja yang bisa pulang ke rumah untuk lebih seirng menyusui.
11
Malas
Tidak keluar ASI
Takut berubah bentuknya
Ingin anaknya sehat
12
Belum siap u hamil karena baru pulang dari luar negeri.
Mendapat dukungan dari keluarga
Ingin anaknya cerdas.
13
Malas, mementingkan penampilan dan pekerjaannya.
Tahu pentingnya ASI
Ingin selalu sekat dengan anaknya.
14
Malas karena merasa sibuk
Mempunyai komitmen ASi eksklusive
Telaten memerah ASi dan menyimpan.
15
Takut payudara berubah bentuk
Ditinggal bekerja
Semangat karena sudah tahu manfaatnya.
Benar-benar ingin anaknya lebih dekat dengan ibunya.
16
Ibu pekerja yang sibuk.
Ibu tahu pentingnya ASI yang snagat dibutuhkan bayinya.

Senin, 06 Juni 2011

BERGIZI TIDAK HARUS BIAYA TINGGI

Alhamdulillah...Bismillah...
Akhirnya kutemukan sebuah jalan pulang untukku. Bergizi tidak harus berbiaya tinggi adalah jalan pulangku menuju insyaallah kemanfaatan terbesarku.
Aku terlahir di dunia profesional sebagai seorang ahli gizi dan bismillah..dengan berbagai jalan (gizi klinik, biostatistika, public health dan berminat di ekonomi kesehatan) akhirnya aku bisa kembali pulang menuju-Nya dengan ilmu basicku yang kudedikasikan untuk ibu dan anak seluruh dunia.

Bismillah...
Semoga Allah SWT ridho dan mempermudah semua urusan...
Semoga ikhtiarku diridhoi dan aku menjadi bisa lebih taqwa dan mencintaiNya..
Kurasakan ketika kujauh dariNya aku menjadi sangat bebal dan tidak bermanfaat..
Maka, kini dengan bismillah..Semoga bisa kugapai ridhoNya..
Semoga bisa kujalin sinergi dengan semua pihak dan semoga aku bisa menjadi salah satu anasir wihdah. 


Bismillah...
Semoga bersama dengan sahabat-sahabatku di semua profesi dan semua lini, kami semua bisa bersinergi penuh ketaqwaan sehingga Dunia Penuh Kasih Sayang bisa segera kita wujudkan..


Bismillah..

Rabu, 01 Juni 2011

Nutriekonomi

Sebuah jurnal yang diterbitkan di Lancet bulan lalu mengenai Health Reformasi menggugah kembali perhatian saya mengenai kemungkinan untuk pelaksanaan pendidikan non formal kesehatan. Utamanya di bidang gizi. mungkin perlu penelitian mengenai cost effectiveness ya..Membandingkan antara pendidikan gizi non formal dan formal dalam upaya pencapaian MDG's..atau mungkin lebih sederhana lagi ; Membandingkan antara satu biaya pendidikan dokter spesialis dibanding dengan biaya pendidikan 1000 kader Pendamping Gizi Keluarga. Diikutin selama 10 tahun, mana di antara keduanya yang lebih cepat untuk memperbaiki kondisi kesehatan Indonesia?

Artinya, sudah waktunya para ahli ekonomi kesehatan menghitung ulang mengenai keduanya sehingga percepatan Health Reformasi di Indonesia segera dapat dinikmati oleh rakyat terbanyak di negara kita tercinta.

Begini alurnya..

Indonesia terkenal memiliki banyak sekali ahli kesehatan saat ini tapi kenapa masalah kesehatan belum bisa dituntaskan?
1. Biaya yang diperlukan untuk universal coverage (UC) sangat besar.
2. Dana APBN dan APBD tidak mungkin cukup untuk menutup semua kebutuhan UC tersebut.
3. Satu-satunya cara adalah mengajak rakyat berdaya.
4. Rakyat lebih berdaya jika mereka sedikit lebih tahu bagaimana mengatur gizi keluarga.
5. Hadirkan Pendamping Gizi Keluarga. Jumlah Pendamping Gizi Keluarga yang memback up per 5-10 keluarga insyallah akan menjadikan lingkungan itu hidup lebih sehat.
6. Pemerintah hemat biaya, rakyat sukarela, dokter spesialis pun tetap bisa terpakai dengan 'mahal' ilmunya karena daya beli masyarakat juga jadi meningkat.
Dengan  begini  semua jadi untung...

Indonesia sejahtera, Ibu dan anak bahagia, kepala keluarga pun tersenyum lega..


Potensi Muzakki untuk MDG's INDONESIA

Muzakki adalah orang muslim yang telah memiliki harta telah mencapai nishob masa/haul sehingga harus membayar zakat. (lihat mengenai definisi lengkap di BAZIS/LAZIS/IMZ).

Penelitian Asian Development Bank (ADB) bahwa potensi zakat bisa sampai 100 trilyun (dihitung dari 2,5% dari pendapatan total seluruh bangsa ini). Jumlah yang sangat besar.

Muzakki yang tahu bahwa mereka bisa membantu pemerintah Indonesia dalam hal membantu rakyat miskin (saudaranya yang membutuhkan) pasti akan segera menyerahkan sebagian harta miliknya untuk kepentingan tersebut.

Pemerintah Indonesia insyaallah tidak akan kesulitan lagi mencari dana untuk membiayai capaian MDG's. Ibu dan Anak Indonesia akan segera tersenyum ceria..