Total Tayangan Halaman

Jumat, 02 Desember 2011

Nutriekonomi : PENTING!!

Nutriekonomi menjadi salah satu ilmu baru yang harus dikembangkan. Di Indonesia khususnya. Sebab ibu Indonesia memiliki keunikan yang luar biasa dibanding ibu-ibu di belahan dunia manapun.

Ibu di indonesia benar-benar istimewa. (Silahkan cari referensi mengenai betapa istimewanya Ibu Indonesia). BENAR-BENAR ISTIMEWA JIKA IA ADALAH UMMU MADROSATUN.

Definisi  ummu madrosatun di sini adalah ia menjadi sekolah pertama dan utama untuk anak-anak Indonesia.
Dibutuhkan ilmu yang luar biasa untuk menjadi menjadi sekolah pertama untuk anak-anaknya. Lebih istimewa dari ilmu apapun  selainnya, karena menjadi penentu bagi kesuksesan generasi berikutnya.

I Love u Ibu Indonesia.
Special untuk Ummu Madrosatun Ibu Indonesia.
Menjelang 22 Desember 2011


Senin, 24 Oktober 2011

Nasihat Bagi Calon Pemimpin Dunia

1. Buat dirimu sesimple mungkin (Keep It Simple!!, So You Smart)
2. Ajak sebanyak-banyaknya orang lain untuk sesimple anda.
3. Jadikan diri anda instrumen kasih sayangNya.
4. Tampunglah Semua di kapal-kapal yang disiapkanNya.

Berlayarlah  di samudera RahmahNya
Gapai RidhoNya
SelamaNya bersama Rosulullah SAW dan Allah SWT.

Penjelasan SIMPLE :
1. Sederhana, bersahaja, tak berlebihan dalam harta, tak berkekurangan, selalu merasa cukup atas pemberianNya.
2. S = Smart, I = Iman, M = Mulia, P = Praktis, L= Legal, E = Empowering

Allahu a'lam bi showab. 


Minggu, 21 Agustus 2011

HUBUNGAN QS AL-IKHLAS dan PEMBIAYAAN KESEHATAN?

QS Al-Ikhlas adalah sebuah  surat unik di Al-Qur'an. Berbeda dengan surat lainnya, tidak ada kata "ikhlas" di dalam seluruh ayat di surat ini.

Berikut sebuah testimoni seorang muslimah  mengenai salah satu surat di dalam Al-Qur'an tersebut :

 Temanggung, 21 Ramadhan 1432 H
Q.S surat nomer 114. Al-Ikhlas.
1.       Katakanlah bahwa Allah itu Esa.
2.       Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadanya segala sesuatu.
3.       Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan.
4.       Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan dia.  
Hari-hari ini ramadhan  Lala  adalah menterjemahkan dan berupaya menerapkan sebuah ayat dalam kehidupannya. Ayat yang sangat sering dibacakan oleh para asatidz, ibunya , ayahnya, saudaranya  dan siapapun.  Sering sekali namun..baru ramadhhan tanggal 22 1432 hijriyah ini Lala ‘ngeh’.
Allahu Akbar.
Baru ramadhan kali ini ..
Al-Ikhlas adalah sebuah kumpulan surat dari alQur’an yang unik dilihat dari namanya saja. Berbeda dengan surat lain yang biasanya menyebut nama surat di salah-satu ayatnya. Misalnya saja surat annas itu ada bunyi annas, surat al Baqoroh ada ayat yang berbunyi baqoroh dsb. Namun al ikhlas?
tidak ada bunyi ikhlas di dalamnya. Dia adalah sebuah nama surat. Ia pula yang  sering diucapkan orang namun sulit melaksanakannya.

IKHLAS.
Ia adalah yang dengannya Ali Bin Abi Tholib berhasil memenangkan kompetisi mengkatamkan al_Qur’an dalam segera. Sebab mata batinnya yang sangat cerdas menangkap pesan Rosulullah SAW : Al Ikhlas adalah seperti sepertiga dari Al-Qur’an.
Subhanallaah.
Usianya yang sudah menginjak 35 tahun tentunya melewati hari yang tidak sulit untuk menghafalkan suart ini. Seingatnya  ayat itu sudah dihafalnya sejak ia belum lagi lulus SD. Kehebatannya sebagai sepertiga dari al-Qur’an juga sudah didengarnya jauh-jauh hari. Namun, kenapa baru sekarang ia benar-benar merasa sangat terkesan dengan ayat ini?
Bahkan ia merasa kesulitan-kesulitannya menjadi hilang begitu saja ketika ia benar-benar berusaha meningat salah satu bunyi ayatnya. Allahu Shomad..
Astaghfirullah…selama ini ia berlarian kesana kemari mencari solusi padahal semua solusi sudha disiapkan melalui satu  ayat ini saja. Hanya  Allah SWT lah tempat terkokoh baginya untuk bergantung.
Maka pantaslah kemudian ias bersyukur. Fa bi ayyi aallaa irobbikumaa tukadzibaan..Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Alhamdulillah…

Lalu..apa hubungannya dengan  Pembiayaan Kesehatan? 

Kita pasti ingat bahwa masalah ini adalah masalah terpelik negara kita (Indonesia tercinta..)  saat ini terkait dengan komitmen pemerintah, terkait dengan APBN/APBD dan terkait dengan MDG'S.  
Pembiayaan kesehatan di Indonesia  masih merupakan suatu PR yang sangat besar. 

Upaya-upaya sistematis, upaya-upaya strategis, upaya-upaya praktis serta seluruh upaya lainnya hendaklah kita lakukan setelah kita kembali kepada Nya. Allah SWT lah tempat kita bergantung!
Mari moment kemerdekaan yang bertepatan dengan ramadhan ini (persis seperti  ketika diperolehnya 66 tahun yang lalu), kita jadikan moment untuk KEMBALI. 

MERDEKA yang sesungguhnya adalah MERDEKA  dari dominasi siapapun, yaitu dengan ALLAHUSHOMAD..(ALLAH adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu..)! 

MERDEKA!!







Minggu, 03 Juli 2011

ZAKAT SEBAGAI ALTERNATIF PEMBIAYAAN KESEHATAN (KEPERLUAN PROMOTIVE DAN PREVENTIF)


ZAKAT SEBAGAI ALTERNATIF PEMBIAYAAN KESEHATAN (KEPERLUAN PROMOTIVE DAN PREVENTIF)
Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan khususnya pasal 171 ayat 1 mengamanatkan pemerintah untuk menyediakan anggaran kesehatan minimal 5% pada APBN. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Anggaran, Kementerian Keuangan periode 2005-2010 rata-rata APBN telah tersedot untuk belanja belanja pegawai (12.17%), transfer ke daerah (31.68%) dan pembayaran cicilan pokok dan bunga hutang (10.59%). Dengan adanya amanat konstitusi terhadap anggaran pendidikan dan kesehatan tentunya semakin membuat beratnya beban fiskal pemerintah dalam melaksanakan pembangunan.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 menargetkan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 7% pada tahun 2014, hal ini membutuhkan investasi sekitar Rp2.000 trilyun per tahun, sedangkan APBN dengan kondisi di atas hanya mampu berkontribusi sekitar 19.54% dari kebutuhan tersebut. Pemerintah perlu lebih kreatif dalam menyediakan sumber pembiayaan tersebut agar tidak  terjebak dalam ketergantungan pada pinjaman luar negeri dan domestic. Perlu dipikirkan alternatif pembiayaan lain yang tidak akan mengganggu fiscal space pemerintah di masa yang akan datang.
Zakat merupakan salah satu alternative sumber pembiyaan pembangunan telah menjadi pembicaraan pada decade terakhir. Di Indonesia, semakin tumbuh dan berkembangnya Lembaga Amil Zakat (LAZ)  menunjukkan betapa besarnya potensi penerimaan Zakat di Indonesia mengingat jumlah penduduk Muslim Indonesia yang mencapai 88,2% dari total penduduk Indonesia. Berdasarkan Survey Sosial Ekonomi Nasional 2007 dari 56,7 juta keluarga di seluruh Indonesia terdapat 13% diantaranya memiliki pengeluaran lebih dari Rp2 juta per bulan. Dengan asumsi bahwa penghasilan setiap keluarga tersebut lebih besar daripada pengeluaran, minimal keluarga tersebut mampu membayar zakat sebesar 2,5% dari pengeluarannya.
Potensi zakat ini tentunya dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif sumber pembiayaan pembangunan di Indonesia. Selama ini, pengelolaan zakat dilakukan oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Badan Amil Zakat Daerah (Bazda) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) baik yang tersertifikasi maupun yang tidak. Dimana Baznas berdasarkan Undang-Undang No. 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat melaksanakan 3 (tiga) peran sekaligus, yaitu sebagai regulator operasional, pengawas dan juga sebagai operator. Kondisi ini mencerminkan bahwa pendayagunaan zakat tidak professional dan masih bersifat santunan, padahal zakat memiliki fungsi strategis seperti pengentasan kemiskinan, pemerataan kekayaan, pemberdayaan ekonomi umat, aspek advokasi dan pendidikan.
Zakat perlu dimaknai memiliki peran sosial yang sama seperti pajak, temasuk dalam upaya pengentasan kemiskinan. Sehingga zakat dapat dijadikan instrumen pembiayaan program-program pembangunan pemerintah yang sejalan (in line) dengan peruntukkan zakat. Bila dilakukan secara transparan, professional dan dikelola satu pintu oleh negara, melalui SDM yang amanah maka zakat yang dapat dihimpun akan optimal sebagai salah satu sumber pembiayaan untuk mengurangi kemiskinan di Indonesia yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Survey Public Interest Research and Advocacy Center (PIRAC) pada tahun 2007 dengan 2.000 responden di 11 kota besar memperoleh hasil bahwa potensi zakat di Indonesia sebesar Rp9,09 trilyun. Sementara pakar ekonomi syariah, Syafii Antonio menyebutkan potensi zakat Indonesia mencapai Rp 17 trilyun. Namun, hasil riset terbaru dari Ivan Syaftian, peneliti dari Universitas Indonesia, tahun 2008, dengan menggunakan qiyas zakat emas, perak dan perdagangan didapat data potensi zakat profesi sebesar Rp 4,825 trilyun per tahun. Perhitungan ini menggunakan variabel persentase penduduk Muslim yang bekerja dengan rata-rata pendapatan di atas nisab.
Tahun 2009 Baznas menargetkan penerimaan sebesar Rp 1 trilyun, namun yang diterima mencapai Rp 1,2 trilyun. Potensi zakat Indonesia menurut Ketua Umum Baznas dapat mencapai 2% dari GDP yaitu, Rp 100 trilyun. Bahkan menurut Kepala Rumah Zakat regional Jawa Timur bahwa pada tahun 2008 penyaluran zakat di Indonesia mencapai Rp 20 trilyun dan tahun 2009 melonjak hingga Rp100 trilyun termasuk yang disalurkan langsung secara individual oleh masyarakat.
Terlepas dari terjadinya perbedaan besaran potensi zakat di Indonesia, namun justru hal ini menunjukkan bahwa :
1. Terdapat potensi zakat yang besar di Indonesia yang dapat digunakan sebagai alternatif pembiayaan program-program pengentasan kemiskinan;
2. Kesadaran masyarakat berzakat dari tahun ke tahun mengalami peningkatan;
3. Masih banyaknya zakat yang disalurkan secara langsung oleh individu;
4. Penyaluran zakat ini juga dapat digunakan untuk mendorong gerak perekonomian jika disalurkan dengan skema yang tepat, tidak kuratif dan berdimensi jangka panjang. (Sumber : ra2koe2011, kompasiana, 2011). 
            Pembiayaan kesehatan yang saat ini sedang banyak dibicarakan adalah universal coverage. Hal ini untuk mendorong setiap unsur dapat  berkontribusi untuk menyelesaikan masalah pembiayaan kesehatan. Masalahnya saat ini pembiayaan kesehatan yang dimaksud lebih sering berbentuk kuratif atau pembiyaan terhadap kebutuhan pasien yang sedang sakit atau pasca sakit. Sementara itu, promosi kesehatan dan kegiatan preventif terkesan masih belum menjadi fokus perhatian utama. Perlu didorong lebih lanjut upaya-upaya preventive dan promotive dengan memanfaatkan dana zakat. Tentunya disesuaikan dengan penggunaannya ketentuan 8 asnaf. Wallau a’lam bis showab. 

Kamis, 23 Juni 2011

MENDIDIK ANAK AGAR SUKSES (THE SHOLAT WAY)



catatn kecil untuk : 
Majelis Pembinaan Kader Aisyiyah 
RS PKU Muhammadiyah TEMANGGUNG

Latar belakang
Sholat adalah amalan pertama yang akan dihisab. Setiap ibu menjadi madrasah pertama pendidikan bagi anak-anaknya. Jadi  penting bagi para ibu untuk tahu metode sukses mendidik anak dengan mengutamakan sholatnya (the Sholat Way

Bagimana mendidik agar sholatnya bagus?
1.     1. ASI EKSLUSIVE
2.     2. DIBERIKAN MAKANAN HALAL
3.     3. SEKOLAH di SEKOLAH ISLAM
4.     4. MENCATAT PERIODISASI SHOLAT ANAK
5.     5. MENGAMATI EFEK SHOLAT  PADA ANAK

Cara Melakukan Periodisasi Sholat 
1. Diajak, dihamparkan sajadahnya.
2. Disuruh. 
3. Dipukul  kakinya jika tidak mau sholat (setelah 10 tahun). 

Setiap ibu hendaknya belajar hingga akhirnya memahami betul tata cara sholat yang benar dan bagaimana menikmati sholat. 

Allahu a'lam. 

Minggu, 19 Juni 2011

ASI MURAH, MUDAH, MEWAH (Pesan untuk anak-anak ummi yang perempuan)

Assalamu'alaikum. Wr. Wb. 
Hamdalah. Sholawat 


Selamat ummi ucapkan untuk remaja putri dan calon ibu yang sebentar lagi akan menjadi ibu. Atau mungkin masih beberapa tahun lagi.
Pemahaman ini harus nanda tahu sejak saat ini. Sebab, saat kalian sudah melahirkan nanti kalian sudah akan sangat repot dengan mempersiapkan segala sesuatunya sehingga mengenai ASI ini harus sejak sekarang nanda tahu.

ASI adalah makanan terhebat hingga saat ini. Tahu kenapa?
Sebab ia adalah makanan pemberian Allah SWT. Al Baqoroh 233 menyebutkan hal itu berabad-abad yang silam.. dan rupanya setelah kemudian ummi juga mendalami ilmu kesehatan, berbagai teori dan penelitian memang membuktikan hal tersebut.

ASI bisa mengikuti secara persis kebutuhan  bayi. Dia sangat mudah diperoleh (langsung dari Allah SWT), dan sangat mewah (istimewa..dan hanya yang betul-betul kualitas terbaik yang bisa disajikan oleh seorang ibu pada anaknya)...yang jelas dia juga murah (..gratis kan?).

Sekali lagi..ummi ucapkan selamat buat kalian semua. Jadilah kelak, kalian semua menjadi ibu sejati, salah satunya dengan memberikan ASI saja secara ekslusive pada 6 bulan pertama setelah melahirkan dan dilanjutkan hingga bayi berusia 2 tahun). Baca referensi lain mengenai ASI ya..!

Selamat, Suksess! Taqwa !!

Wassalamu'alaikum. Wr. Wb. 

Ummi Mimin 

Selasa, 14 Juni 2011

Pelatihan Manajemen LAKTASI


ASI EKSLUSIVE di MATA NAKES
RS PKU MUHAMMADIYAH TEMANGGUNG
Juni 2011
Pendahuluan
Pendapat dan persepsi tenaga kesehatan  dapat menjadi indikator cakupan pemberian ASI ekslusive di sebuah RS. Sebuah pelatihan  manajemen laktasi yang dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman para tenaga kesehatan terhadap sosialisasi ASI ekslusive telah diselenggarakan di RS PKU Muhammadiyah Temanggung.
Beberapa karyawan yang dipilih secara acak dari petugas yang berkaitan langsung dengan pasien diambil sejumlah 20 orang.
Duapuluh orang tersebut kemudian diberikan pelatihan mengenai manajemen laktasi. Dilakukan pretes dan post test serta diharapkan monitor yang terus menerus dapat menjadikan kegiatan manejemen laktasi dan kampanye ASI Ekslusive menjadi kegiatan yang berkesinambungan.
Output yang diharapkan adalah munculnya konselor atau perempuan tenaga kesehatan yang mendorong budaya pemberian ASI Ekslusive.
Out come yang diharapkan adalah meningkatnya cakupan pemberian ASI Ekslusive yang berimbas pada kecerdasan anak.
Metode
Pengambilan data ini dilakukan di tengah-tengah acara dengan cara mengedarkan kertas potongan seukuran seperempat folio dan meminta peserta pelatihan mengisi. Peserta tidak diminta menuliskan namanya dengan harapan mereka akan menuliskan dengan lebih objective.

Hasil
Dari 20 orang yang diundang, yang datang 16 orang.
Komentar mengenai Alasan/faktor keberhasilan pemberian ASI EKSLUSIVE  adalah sebagai berikut :
No
Komentar Ketidakberhasilan 
Komentar Keberhasilan 



1
Karena keinginan menyusui kurang
·         Ada keinginan menyusui
·         Dukungan keluarga
2
·         ASI tidak  keluar
·         Bekerja
·         Kurangnya pengetahuan tentang manfaat ASI
·         Tidak bekerja
·         SDM tinggi (berpendidikan)
3
Puting susu tidak ada (kurang perawatan).
ASI Sedikit
Emosi Tinggi 
Puting susu menonjol
ASI banyak
Penuh kasih sayang
4
Faktor ekonomi (stress)
Ikhlas
Penuh kasih saying
Keluarga sehat
Ekonomi memadai  
5
Kurangnya pengetahuan orang tua tentang manfaat ASI.  
Anaknya menjadi sehat.
6
Faktor Pekerjaan
Kemauan ibu yang kuat untuk tetap menyusui
Punya waktu yang luang.
7
Sibuk kerja
Puting lecet
Produksi ASi tidak banyak
Tahu betapa besar manfaat ASI bagi bayinya.
Sayang dengan bayinya.

8
Kurang pengetahuan
Kurang informasi
Anak Sakit
SDM bagus
Komitmen terhadap ASI ekslusive
9
Ibu kurang/tidak telaten
Ibu kurang/tidak sayang bayi
Rumah tangga bermasalah
Ibu mencintai anaknya
10
Ibu bekerja
Menggunakan KB hormonal.
ASI berkurang
Bayi tidak mau menyusu.
Lebih sering rewel.
Ibu bekerja yang bisa pulang ke rumah untuk lebih seirng menyusui.
11
Malas
Tidak keluar ASI
Takut berubah bentuknya
Ingin anaknya sehat
12
Belum siap u hamil karena baru pulang dari luar negeri.
Mendapat dukungan dari keluarga
Ingin anaknya cerdas.
13
Malas, mementingkan penampilan dan pekerjaannya.
Tahu pentingnya ASI
Ingin selalu sekat dengan anaknya.
14
Malas karena merasa sibuk
Mempunyai komitmen ASi eksklusive
Telaten memerah ASi dan menyimpan.
15
Takut payudara berubah bentuk
Ditinggal bekerja
Semangat karena sudah tahu manfaatnya.
Benar-benar ingin anaknya lebih dekat dengan ibunya.
16
Ibu pekerja yang sibuk.
Ibu tahu pentingnya ASI yang snagat dibutuhkan bayinya.

Senin, 06 Juni 2011

BERGIZI TIDAK HARUS BIAYA TINGGI

Alhamdulillah...Bismillah...
Akhirnya kutemukan sebuah jalan pulang untukku. Bergizi tidak harus berbiaya tinggi adalah jalan pulangku menuju insyaallah kemanfaatan terbesarku.
Aku terlahir di dunia profesional sebagai seorang ahli gizi dan bismillah..dengan berbagai jalan (gizi klinik, biostatistika, public health dan berminat di ekonomi kesehatan) akhirnya aku bisa kembali pulang menuju-Nya dengan ilmu basicku yang kudedikasikan untuk ibu dan anak seluruh dunia.

Bismillah...
Semoga Allah SWT ridho dan mempermudah semua urusan...
Semoga ikhtiarku diridhoi dan aku menjadi bisa lebih taqwa dan mencintaiNya..
Kurasakan ketika kujauh dariNya aku menjadi sangat bebal dan tidak bermanfaat..
Maka, kini dengan bismillah..Semoga bisa kugapai ridhoNya..
Semoga bisa kujalin sinergi dengan semua pihak dan semoga aku bisa menjadi salah satu anasir wihdah. 


Bismillah...
Semoga bersama dengan sahabat-sahabatku di semua profesi dan semua lini, kami semua bisa bersinergi penuh ketaqwaan sehingga Dunia Penuh Kasih Sayang bisa segera kita wujudkan..


Bismillah..

Rabu, 01 Juni 2011

Nutriekonomi

Sebuah jurnal yang diterbitkan di Lancet bulan lalu mengenai Health Reformasi menggugah kembali perhatian saya mengenai kemungkinan untuk pelaksanaan pendidikan non formal kesehatan. Utamanya di bidang gizi. mungkin perlu penelitian mengenai cost effectiveness ya..Membandingkan antara pendidikan gizi non formal dan formal dalam upaya pencapaian MDG's..atau mungkin lebih sederhana lagi ; Membandingkan antara satu biaya pendidikan dokter spesialis dibanding dengan biaya pendidikan 1000 kader Pendamping Gizi Keluarga. Diikutin selama 10 tahun, mana di antara keduanya yang lebih cepat untuk memperbaiki kondisi kesehatan Indonesia?

Artinya, sudah waktunya para ahli ekonomi kesehatan menghitung ulang mengenai keduanya sehingga percepatan Health Reformasi di Indonesia segera dapat dinikmati oleh rakyat terbanyak di negara kita tercinta.

Begini alurnya..

Indonesia terkenal memiliki banyak sekali ahli kesehatan saat ini tapi kenapa masalah kesehatan belum bisa dituntaskan?
1. Biaya yang diperlukan untuk universal coverage (UC) sangat besar.
2. Dana APBN dan APBD tidak mungkin cukup untuk menutup semua kebutuhan UC tersebut.
3. Satu-satunya cara adalah mengajak rakyat berdaya.
4. Rakyat lebih berdaya jika mereka sedikit lebih tahu bagaimana mengatur gizi keluarga.
5. Hadirkan Pendamping Gizi Keluarga. Jumlah Pendamping Gizi Keluarga yang memback up per 5-10 keluarga insyallah akan menjadikan lingkungan itu hidup lebih sehat.
6. Pemerintah hemat biaya, rakyat sukarela, dokter spesialis pun tetap bisa terpakai dengan 'mahal' ilmunya karena daya beli masyarakat juga jadi meningkat.
Dengan  begini  semua jadi untung...

Indonesia sejahtera, Ibu dan anak bahagia, kepala keluarga pun tersenyum lega..


Potensi Muzakki untuk MDG's INDONESIA

Muzakki adalah orang muslim yang telah memiliki harta telah mencapai nishob masa/haul sehingga harus membayar zakat. (lihat mengenai definisi lengkap di BAZIS/LAZIS/IMZ).

Penelitian Asian Development Bank (ADB) bahwa potensi zakat bisa sampai 100 trilyun (dihitung dari 2,5% dari pendapatan total seluruh bangsa ini). Jumlah yang sangat besar.

Muzakki yang tahu bahwa mereka bisa membantu pemerintah Indonesia dalam hal membantu rakyat miskin (saudaranya yang membutuhkan) pasti akan segera menyerahkan sebagian harta miliknya untuk kepentingan tersebut.

Pemerintah Indonesia insyaallah tidak akan kesulitan lagi mencari dana untuk membiayai capaian MDG's. Ibu dan Anak Indonesia akan segera tersenyum ceria..

Senin, 23 Mei 2011

Nutriekonomi

Pembiayaan kesehatan bagi masyarakat miskin menjadi topik utama di beberapa negara Asia saat ini. Salah satu pemikiran yang muncul adalah membiayai preventif dan promotive kesehatan dengan dana zakat.
Zakat sebagai alternatif pembiayaan pembangunan sangat mendukung pemikiran ini karena itu nutriekonomi menjadi topik bahasan yang sangat penting.

Justifikasinya :
1. Gizi atau nutrisi ada di ranah preventif.
2. Semua orang lebih mudah mengakses gizi yang murah daripada obat yang murah.
3. Mencegah lebih murah daripada mengobati.
4. Temuan-temuan mengenai makanan hubungannya dengan kesehatan sudah banyak sekali.
5. Ahli gizi hasil didikan perguruan tinggi sejak D III hingga S 3 Jumlahnya banyak sekali di Indonesia.

Melihat semua latar belakang tersebut perlu research : Bagaimana implementasi nutriekonomi di Indonesia?
Saatnya bagi Ahli Gizi untuk berperan dalam Kesehatan Dunia.