Total Tayangan Halaman

Rabu, 01 Juni 2011

Nutriekonomi

Sebuah jurnal yang diterbitkan di Lancet bulan lalu mengenai Health Reformasi menggugah kembali perhatian saya mengenai kemungkinan untuk pelaksanaan pendidikan non formal kesehatan. Utamanya di bidang gizi. mungkin perlu penelitian mengenai cost effectiveness ya..Membandingkan antara pendidikan gizi non formal dan formal dalam upaya pencapaian MDG's..atau mungkin lebih sederhana lagi ; Membandingkan antara satu biaya pendidikan dokter spesialis dibanding dengan biaya pendidikan 1000 kader Pendamping Gizi Keluarga. Diikutin selama 10 tahun, mana di antara keduanya yang lebih cepat untuk memperbaiki kondisi kesehatan Indonesia?

Artinya, sudah waktunya para ahli ekonomi kesehatan menghitung ulang mengenai keduanya sehingga percepatan Health Reformasi di Indonesia segera dapat dinikmati oleh rakyat terbanyak di negara kita tercinta.

Begini alurnya..

Indonesia terkenal memiliki banyak sekali ahli kesehatan saat ini tapi kenapa masalah kesehatan belum bisa dituntaskan?
1. Biaya yang diperlukan untuk universal coverage (UC) sangat besar.
2. Dana APBN dan APBD tidak mungkin cukup untuk menutup semua kebutuhan UC tersebut.
3. Satu-satunya cara adalah mengajak rakyat berdaya.
4. Rakyat lebih berdaya jika mereka sedikit lebih tahu bagaimana mengatur gizi keluarga.
5. Hadirkan Pendamping Gizi Keluarga. Jumlah Pendamping Gizi Keluarga yang memback up per 5-10 keluarga insyallah akan menjadikan lingkungan itu hidup lebih sehat.
6. Pemerintah hemat biaya, rakyat sukarela, dokter spesialis pun tetap bisa terpakai dengan 'mahal' ilmunya karena daya beli masyarakat juga jadi meningkat.
Dengan  begini  semua jadi untung...

Indonesia sejahtera, Ibu dan anak bahagia, kepala keluarga pun tersenyum lega..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar